Senyum Penjual Buah

Saat hari raya tiba, perasaanku senang sekali. Mungkin ini pertama kali aku bertemu dengan hari raya. Aku senang sekali karena ummiku menjadi nampak sibuk di rumah. Juga beberapa kali jalan-jalan ke pasar. Aku menyukai pasar yang di dalamnya berkerumun banyak orang. Aku bisa menyapa mereka. Para tukang becak, tukang ojek, penjual sayur, penjual buah, penjual daging, penjual tahu, penjual tempe, juga penjual kue. Bila ku sapa mereka, mereka akan menyambut sapaanku dengan baik. Lalu gemas dengan pipiku yang gembul menyembul.
Mungkin aku hanya bayi. Tetapi aku telah mengerti kehangatan dan keramahan orang-orang sekitar. Meski demikian, aku tidak mengerti mengapa pedagang buah itu cemberut hingga buah yang dijualnya nampak kisut. Aku tidak bisa bertanya atas ketidak tahuanku. Tetapi aku dapat bertanya dengan pandanganku yang aneh. Kita tidak berbicara dengan mulut, tetapi berbicara dengan hati dan perasaan. Aku telah memiliki hati dan perasaan meskipun kecil dan sedikit. Tetapi ku rasa cukup menjangkau bumi yang begitu luasnya.
Aku ingin melengkungkan senyum pada penjual buah itu. Agar buah yang dijualnya menjadi semakin segar dan ranum. Maka aku lemparkan ia beberapa senyuman keramahan. Mula-mula ia tidak menangkapnya. Lalu aku menyapanya dengan berteriak-teriak. Tak lama penjual itu mulai tersenyum dan bertanya pada ummiku tentang aku. Maka kami berinteraksi dengan normalnya.
Setelah kami selesai belanja, taklama, penjual buah itu dikerumuni banyak orang. Ia pun akhirnya mengobral beberapa buah yang nampak kisut dan tidak ceria.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s